Potensi Serat Pangan Ubi Jalar (ipomoe batats (L.) Lam) sebagai Penghasil butirat untuk mencegah Kanker

Eni Harmayani1, Y.Marsono1, Sismindari2, Ira Budi Astuti3 dan Darimiyya Hidayati3

(1Jurusan Tek. Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada, 2 Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, 3 Alumni PS. Ilmu dan Tek. Pangan, sekolah Pasca Sarjana, Universitas Gadjah mada)

Abstrak

Variasi diet atau pola makan mempengaruhi resiko timbulnya penyakit kanker. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi serat pangan pada ubi jalar sebagai penghasil butirat untuk mencegah kanker. Penelitian dibagi menjadi 2 tahap. Pertama, ekstrak serat ubi jalar (ESU) diujikan pada tikus dengan diet tinggi serat (10% serat pangan) untuk mengetahui efeknya terhadap produksi butirat saat fermentasi serat pangan dalam kolon. Pakan adaptasi menggunakan diet AIN-76-modifikasi diberikan selama satu minggu. Pakan perlakuan diberikan pada tiga kelompok tikus yang berbeda menggunakan diet tinggi serat AIN-76-modifikasi. Pembagian kelompok dalam uji in vivo ini berdasarkan pada perbedaan sumber serat pangan. Kelompok 1 menggunakan selulosa, kelompok II menggunakan ESU, dan kelompok III menggunakan inulin sebagai sumber serat pangannya. Kedua, pengujian anti kanker dengan cell line Hela dalam uji sitotoksis asam butirat murni. Hasil penelitian menunjukan pemberian ESU pada tikus selama 2 minggu dengan pakan perlakuan ESU menghasilkan rasio Short Chain Fatty Acid (SCFA=Asetat:Propionat:Butirat) sebesar 57:33:10. rasio ini lebih proporsional dalam mencegah kanker dengan tingginya rasio SCFA sebesar 71:20:9 dan 66:28:6, secara berurutan. Hasil uji sitotoksis pada cell line kanker menunjukan bahwa asam butirat murni mempunyai LC50 sebesar 616.6 μg/mL. Dengan rasio SCFA tersebut menunjukan bahwa ESU berpotensi sebagai penghasil asam butirat dalam kolon dan asam butirat tersebut digunakan sebagai pencegah kanker.

sameyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *